Kuningan, UPMKNews -- Sampah menjadi masalah akut di Indonesia ini. Keberadaan para pengumpul barang bekas seharusnya bisa diandalkan untuk mengatasi persoalan ini. Dengan mengembalikan mereka pada posisinya sebagai pahlawan lingkungan, diharapkan masalah sampah bisa sedikiti teratasi. 

Barang bekas atau barang tak terpakai dapat membuat rumah menjadi terlihat berantakan. Biasanya, barang bekas berakhir menjadi sampah yang dapat mempengaruhi lingkungan hidup jika tidak dikelola dengan baik.

Meskipun bekas atau tidak terpakai, barang tersebut sebenarnya masihlah berguna. Bukan hanya dari segi fungsi, beberapa barang bekas seperti rongsok mempunyai nilai ekonomis yang dapat mendatangkan keuntungan. Hal itu dikarenakan beberapa rongsokan dapat didaur ulang untuk menjadi barang lain.

Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Kuningan yang terdiri dari Azka Tasya Kamila, Salsabila Rahmadani, Soniavasa Faradiba, Yulis Putri Wijayanti, Maulidya Cahya Utami, dan Mia Sofi Nurlaeli mahasiswa PGSD semester 6 dengan Dosen Pengampu ibu Fuji Nursholeha Almaghfiroh, S.Si., M.Pd., melakukan observasi ke salah satu tempat pengelolaan sampah yang berada di Desa Karang Mangu, Kramat Mulya, Kuningan pada Kamis (16/03/2023) lalu.

Salah satu TPS yang berada di Desa Karang Mangu ini bernama Jual Beli Barang Bekas Karang Mangu, berdiri sejak 10 tahun yang lalu di atas tanah seluas kurang lebih 900m². Pemilik yang bernama Bapak Adi Lesmana memiliki tujuan ketika membangun TPS ini "tujuan saya membangun tps ini adalah agar desa karang mangu terbebas dari sampah plastik dari masyarakat," ujarnya.

Ada sekitar 10 orang jumlah pekerja yang bekerja bersama pa agi untuk mengelola TPS ini, mereka semua berasal dari Desa Karang Mangu sendiri, karyawan bekerja selama 9 jam/hari, dimulai pada pukul 08.00 - 16.00 WIB, dengan sistem gaji yaitu mingguan, "ini salah satu tujuan saya membuka usaha ini, saya jadi bisa membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat sekitar," ucap Agi.

Para karyawan bekerja selama 9 jam/hari, dimulai pada pukul 08.00 - 16.00 WIB, dengan sistem gaji yaitu mingguan.Tidak ada aturan khusus ketika bekerja, hanya saja bapak Agi menerapkan peraturan untuk selalu menggunakan sepatu dan sarung tangan ketika bekerja demi keselamatan.

Terdapat beberapa jenis sampah yang di terima di TPS Karang Mangu seperti sampah berbahan plastik, kaca, kertas, besi, karet maupun gabus. Sampah tersebut di terima dari sampah rumahan masyarakat yang menjualnya secara langsung ke TPS maupun dari para pengepul. Sampah maupun barang bekas dari masyarakat maupun dari pengepul memiliki harga yang berbeda tergantung dari jenis nya. 

Ketika sampah diterima, para pekerja akan memilah sampah tersebut berdasarkan jenisnya agar tersusun secara rapih. kemudian sampah yang sudah tersusun berdasarkan jenisnya akan di kirim ke pabrik besar pembeli sampah untuk di jual. Pengiriman sampah biasa dilakukan ke kota bekasi maupun jakarta, pengiriman biasa dilakukan dua hari sekali dengan jenis yang berbeda disetiap pengirimanya.

Keuntungan yang diperoleh Pak Agi dari usaha ini bisa dikatakan cukup besar, bahkan perbulan bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp.3.000 rupiah dari setiap 1 kilogram sampah yg dijual. Dan ketika ditanya alasan memilih pekerjaan ini beliau menjawab "Usaha ini tidak membutuhkan keahlian khusus dan saya bukan orang berpendidikan yang nemiliki gelar, itulah kenapa saya memilih jalan usaha ini".

Sumber: Azka Tasya Kamila, Salsabila Rahmadani, Soniavasa Faradiba, Yulis Putri Wijayanti, Maulidya Cahya Utami, dan Mia Sofi Nurlaeli (Mahasiswa Aktif PGSD Semester 6).