Kuningan, UPMKNews -- Kesenian ngareog di Bunigeulis Kecamatan Hantara sudah berdiri dari dulu. Nayaga/personil yang terlibat dalam kesenian ngareog terdiri dari 9 orang, campuran dari ibu-ibu dan bapak-bapak. Ada 8 orang yang memegang alat musik dan 1 orang sebagai sinden (menyanyi/ngahaleuang).

Alat musik tradisional yang digunakan dalam Seni Ngareog terdiri dari Reog (jenisnya Tilingting, Kentong, Gendung, Dalugdag) Goong, Angklung, Bamplak dan Kecrek/icik-icik. Cara memainkan alat musik ini juga unik, dengan dipangku/digendong, dalam bahasa Sunda nya “di Ais” menggunakan samping /kain, lalu nayaga/personil yang membawa alat musik reog tersebut berputar dan melakukan gerakan khusus seiring berjalannya musik yang dimainkan.

Alat musik ini mengiringi suara nyanyian sinden yang menambah kesyahduan. Dan juga Jenis genre yang dipakai pada kesenian ini yakni genre musik Sunda Buhun, bisa juga dikolaborasikan dengan genre lain seperti Dangdut dan Kawih Sunda Modern.

"Biasanya lagu yang dinyanyikan terdiri dari lagu-lagu buhun seperti rayak-rayak, reogan,  adem ayem dan lagu buhun lainnya," ujar Ma Ikah, salah satu pemain alat musik reog.

Berikut sedikit penggalan lirik lagu nya:

"rendeu bereum rendeu hideung rendeu taya koléntangan, ning ki nebeung, ning ki nineung lawas lawas kaédanan, lawas lawas kaédanan kamana ngaitkeun kincir, ka Kaler mah ka kaler ka tojo bulan, kamana ngaitkeunpikir, moal palér ku sabulan, kuma suling kuma suling,  suling teh ngan silung baé, kuma kuring kuma kuring, kuring téh baringung baé, kaso pondok kaso panjang, kaso kaso kaso ngaroyom ka jalan”.

Kajian bahasa yang digunakan juga menggunakan Bahasa Wewengkon/Bahasa Buhun, yang merupakan Bahasa Sunda yang jarang didengar/digunakan pada dialog sehari-hari. Dengan lirik lagu yang bersifat papantunan yakni memiliki larik yang berisi jawaban. Nyanyian Sinden diiringi oleh Alok (suara tambahan dari nayaga) yang merupakan pelengkap dalam nyanyian sinden.

Ancak Alon dan Ancak Kendor merupakan jenis tempo yang digunakan ketika menabuh Reog, dan juga menggunakan pukulan Goong Sawile. Di dalam kesenian Ngareog ini,  dibutuhkan kekompakan dan keserasian ketika menabuh alat musik supaya irama yang ditimbulkan bisa dinikmati secara seksama.

Biasanya kegiatan latihan Ngareog ini dilaksanakan di rumah salah satu personil/Nayaga pada malam Minggu di Desa Bunigeulis khususnya di Blok Manis Rt.09.

"kesenian yang unik, pokoknya harus dilestarikan dan harus ditampilkan lebih luas lagi,"  ucap Elsa (salah satu mahasiswa KKN STKIP Muhammadiyah Kuningan).

Kuar biasa yang dirasakan oleh mahasiswa KKN Bunigeulis ketika melihat dan mencoba alat musik Ngareog ini. Dikarenakan kesenian ini merupakan salah satu ciri khas Desa Bunigeulis sebagai wujud ngamumule/melestarikan kesenian sebagai kearifan lokal yang memang jarang ditemukan didaerah lain.

Penulis: Delia Julianti & Salsabila Suci Cahyati (Mahasiswa KKN Desa Bunigeulis)

Editor: Putri (Jurnalis)